Site icon GELOMBANG CAHAYA INFORMASI

Tradisi Nyekar Usai Lebaran, Warga Bayur Kali Ziarahi Makam Leluhur

Kabupaten Tangerang – Suasana haru dan penuh khidmat terlihat di area pemakaman umum Bayur Kali Rt 001 rw 004 Desa Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan Timur, sehari setelah perayaan Idul Fitri. Warga setempat berbondong-bondong melaksanakan tradisi nyekar atau ziarah kubur sebagai bentuk penghormatan dan doa kepada keluarga serta leluhur yang telah meninggal dunia. Minggu ( 22/03/2026 )

Tradisi ini telah menjadi kebiasaan turun-temurun yang terus dijaga oleh masyarakat Bayur Kali. Sejak pagi hari, warga mulai berdatangan ke pemakaman dengan membawa bunga tabur, air, serta perlengkapan doa. Mereka membersihkan area makam, mencabut rumput liar, dan merapikan nisan sebelum memulai doa bersama.

Menurut salah satu tokoh masyarakat setempat, tradisi nyekar bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga memiliki makna mendalam sebagai bentuk pengingat akan kematian serta pentingnya mendoakan orang-orang yang telah lebih dahulu meninggal. Selain itu, momen ini juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga yang jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.

“Setelah Lebaran, biasanya keluarga besar berkumpul. Dari situ kita bersama-sama datang ke makam orang tua atau saudara untuk mendoakan mereka. Ini sudah menjadi bagian dari budaya kami,” ujarnya.

Anak-anak hingga orang tua tampak ikut serta dalam kegiatan tersebut. Bagi generasi muda, tradisi ini menjadi sarana edukasi untuk mengenal nilai-nilai budaya dan pentingnya menghormati leluhur.

Orang tua pun memanfaatkan kesempatan ini untuk mengajarkan doa-doa serta tata cara berziarah kepada anak-anak mereka.
Selain membaca doa, sebagian warga juga terlihat membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an di samping makam. Suasana menjadi semakin khusyuk dengan lantunan doa yang dipanjatkan secara bersama-sama. Beberapa keluarga bahkan menggelar doa khusus untuk anggota keluarga yang baru saja meninggal dalam beberapa waktu terakhir.

Tradisi nyekar ini juga membawa dampak positif dalam menjaga kebersihan lingkungan pemakaman dan untuk mencari rezeki bagi penjual bunga tabur.

Dengan adanya kegiatan rutin seperti ini, makam tetap terawat dan tidak terbengkalai. Warga secara gotong royong memastikan area pemakaman tetap bersih dan nyaman untuk dikunjungi.

Di tengah perkembangan zaman, tradisi nyekar tetap bertahan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Bayur Kali. Meski gaya hidup modern terus berkembang, nilai-nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, serta spiritualitas tetap menjadi hal yang dijunjung tinggi.

Dengan semangat Idul Fitri yang penuh maaf dan kebersamaan, tradisi nyekar menjadi pelengkap yang memperkuat hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta serta dengan sesama, baik yang masih hidup maupun yang telah tiada.

Helmi Apriyani

Exit mobile version